Senin, 03 Agustus 2015

Pendakian Gunung Semeru (Part 2)

Mahameru , Mahahebat dengan teman-teman Hebat






Pos Kalimati (2700 Mdpl)

Kamis 23 Juli 2015 – Jum’at 24 Juli 2015

ZZZZZzzzzzzztttttttttttzz.....
zzzZZZZZZtttt.....

Setelah sebelumnya gue tertidur di cerita sebelumnya, yang belum baca bagian pertama nih : Part 1

Akhirnya pukul 23.00 kamis gue terbangun, sengaja alarm gue pol in volume nya supaya bisa bangun tepat waktu. Setelah bangun ternyata gue kebelet pup, Ah dasar sialan... padahal lagi persiapan genting sebelum summit, tapi okelah tetep harus gue penuhin ni hajat gue, dan ternyata Davig juga kebelet, yes ada temennya. Akhirnya kami pun berdua menuju Bilik Merenung ditemani ribuan bintang yang indah banget malam itu, ahhhhh spesial banget beol kali ini, Awesome....



Agak lama kami di dalam bilik merenung jam itu, karna benda yang kita keluarin dari #nus keras banget, sepertinya mereka membeku,hahahaha...shitt... Lupain njijiki....

Sempat terjadi obrolan di bilik merenung antara gue dan Davig :

“Bintangnya bagus banget ya, eeeeeeeekkkk...ahhhh....erghhhhh (Sambil ngeden)” kata gue 
“Iya pik, asik biangeti ya... ekkkkkk....ehhhhh....ergggg, phik tisu basahmu masih (ngeden juga)” Davig ngejawab
masih, ni tak bawa.....” gue

Lupakan pembicaraan yang sangat nggak penting tadi........

Setelah perjuangan ngeden tadi yang amat menguras energi, akhirnya kami berdua kembali ke tenda untuk persiapan summit attack menuju puncak Mahameru, Disini tas carrier tenda dan lain-lain akan kita tinggal di tempat camp di Kalimati, yang kita bawa atau gue bawa saat itu adalah tas daypack dengan isinya ( Air mineral 2 liter, Madurasa 4 sachet, Coklat batangan 2, choki-choki, kacang atom, kemudian P3K dan tabung mini oksigen) nah disini diwajibkan masing-masing membawa barang-barang tersebut, jangan sepelekan trek ke puncak karna benar-benar menguji fisik, tekad, dan mental kita. Ohya, jangan lupa bawa jas hujan kalo sewaktu-waktu cuaca mendadak berubah. jangan terlalu bawa barang bawaan yang terlalu berat, dan jangan pula terlalu sedikit, nah bingung kan.

Tengah malam sekitar pukul 00.00 setelah persiapan, abis ngisi perut, dan pada ribet sendiri. Kami ber 14 akan memulai perjalanan ke puncak, diawali dengan doa, Kebetulan gue yang saat itu mimpin doa :

“Assalamualaikum Wr.Wb teman-teman, setelah ini kita akan menuju ke puncak, semoga kita semua sukses, diberi kelancaran, dan kekuatan buat menggapai puncak Mahameru bersama, dan inget tujuan kita masing-masing... semoga Allah memberi kita kelancaran, Berdoa menurut agama masing-masing dimulai”
(kemudian suasana hening dan mengharu biru) “selesai”...... kata gue


Kemudian kami berpegangan tangan bersama-sama, dan mengucap “Bismilahirohmairohim” bersama-sama....


Semangat yang menggelora, tekad yang membaja mulai kami pupuk dari sini......

"It is not the mountain we conquer but ourselves"  Edmund Hillary

“Bukan gunung yang kita taklukkan tapi diri sendiri”

Headlamp pun kami nyalakan, dan kami mulai berjalan berjajar menuju trek ke puncak Mahameru, 14 anak manusia yang mempunyai tekad sama, kemauan yang sama, dan perjuangan yang sama dengan cara bersama-sama (tetottttttt....mengulang kata “sama”).

14 kepribadian yang berbeda dengan satu harapan “menginjakkan kaki di tanah tertinggi Jawa, puncak abadi para dewa”

Dengan berjalan beriringan kami pun mulai menyusuri jalan setapak di tengah hutan menuju Pos Arcapada. Sempat juga berpapasan dengan rombongan pendaki lain yang memiliki tujuan yang sama dengan kami, trek berpasir dengan debu yang pekat membuat masker/ataupun buff kami terlihat sangat kotor, udara yang dingin benar-benar terasa menusuk tulang, trek menanjak seolah menguji tekad kami masing-masing, oksigen yang tipis membuat nafas kami semakin intens menyedot oksigen. Tapi untungnya masih ada banyak ranting pohon yang bisa digunakan untuk sekedar berpijak atau pegangan dari trek kalimati sampe Arcopodo ini, lumayan ngebantu.

Ohya, banyak sekali pendaki yang akan summit sehingga tak heran untuk berjalan pun kita harus ngantri, atau kadang macet jika ada pendaki lain yang di depan sedang beristirahat, kami selalu berhitung (absen) saat sedang beristirahat 1 sampai 14, kadang 13 lah karna salah satu diem saking capeknya, siapa hayoo...ngaku!!!

Berjalan lebih dari satu setengah jam akhirnya kami sampe di Pos Arcopodo dimana disitu udah terdapat tenda-tenda kosong yang sudah ditinggal penghuninya muncak, space di arcopodo hanya bisa muat kira-kira untuk 4 tenda tapi disini kontur tanahnya rawan longsor. Sudah sampai mana yaa mereka??? nggak bisa membayangkan, menuju Arcopodo dengan membawa carrier yang berisi tenda, sleeping bag, peralatan masak dan lain-lain yang pastinya sangat berat, salut buat yang ngecamp di Arcopodo deh. Arcopodo berada pada ketinggian 2.900m. Arcopodo adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya kita akan melewati bukit pasir




Di atas pos Arcapada kami sempat beristirahat agak lama, dan sambil gue puter Mp3 lagunya Erros & Okta “Ost So hok Gie” di tengah kegelapan malam dan ribuan bintang yang menemani setiap langkah kami ber empat belas.


sampaikanlah pada ibuku
aku pulang terlambat waktu
ku akan menaklukkan malam
dengan jalan pikiranku
sampaikanlah pada bapakku
aku mencari jalan atassemua keresahan-keresahan ini
kegelisahan manusia
retaplah malam yg dingin
tak pernah berhenti berjuang pecahkan teka-teki malam
tak pernah berhenti berjuang
pecahkan teka-teki keadilan
berbagi waktu dengan alam
kau akan tahu siapa dirimu yg sebenarnya
hakikat manusia
akan aku telusuri jalan yg setapak ini
semoga kutemukan jawaban
 
lirik lagu di atas yang sangat menyentuh, “ Gue, Rendra, Romi, Aji, Nuki, Davig, Andri, Angga, Fajar, Dwiki, Habin, Windi, Rosa, Wiku ”, kami agak lama ngobrol disini dan saling menyemangati dan bercanda ria supaya lupa rasanya capek. Sungguh terasa kebersamaan kami semua, padahal baru beberapa hari diantara kita  ini saling kenal, sungguh gunung selalu mempunyai daya magis istimewa yang dapat menyatukan para pendaki-pendaki.

Tak berlama-lama beristirahat kami lanjut lagi mendaki hingga akhirnya sampailah di batas vegetasi dan terpampang nyata gundukan pasir raksasa yang tampak samar-samar diterangi temaram cahaya purnama. Subhanallah begitu besar...banget Semeru itu, gue takjub dan terharu, trek pasir mulai semakin luas, dan terbuka... Bintang dan bulan terasa lebih dekat di atas kami.

Menghela nafas sejenak karena sebentar lagi bakal menapaki trek yang paling susah di Semeru, jarak tempuh dari batas vegetasi menuju puncak 4-6 jam (tergantung kondisi fisik dan ramainya pendaki). Di depan trek tampak ratusan cahaya senter/headlamp pendaki-pendaki yang udah lebih dulu memulai menyusuri jalur berpasir itu. Terlihat juga cahaya senter yang paling depan sudah ada yang mau sampai di pertengahan jalan, sedangkan kami baru memulainya. Tak apa yang penting Mahameru masih tetap berada di singgasananya, puncak tidak akan pergi kemana-mana. Dan gue percaya, pasti bisa sampe puncak. (mbrebes ganteng)

Track berupa pasir yang labil dan tidak padat sangat menyulitkan kaki buat melangkah. Setiap kaki kita melangkah ke atas, akan turun/terperosok kembali ke bawah. Melangkah 3 langkah turun 2 langkah. Yang gue baca di internet terbukti disini.

Kami mulai menapaki pasir labil yang mudah melorot, kami semua berjuang untuk meningkatkan ketinggian saat kami berpijak. Sangat sulit emang, rasanya dalam tiga langkah merangkak keatas mungkin yang bisa dihitung langkah sebenarnya hanya satu langkah aja, karena kelabilan pasirnya yang sangat mudah melorot. Padahal di awal awal gue selalu menghitung langkah gue, 20 – 30 langkah kemudian istirahat, dan lanjut lagi. Tapi kondisi fisik yang mulai menurun ditambah suhu dingin dan trek yang GILAAAAAAA dengan kemiringan 60 derajat lebih, sukses bikin frustasi, dan berefek membuat langkah gue makin gontai dan menurun. Tuhannnnnnn.....
Tapi gue sebelum muncak ini, nyari info di internet juga sih. Katanya, cara gampang supaya melangkah dengan lancar, adalah kita cari aja jejak kaki pendaki sebelumnya yang bisa kita pijaki lagi. Bekas kaki itu tentu udah lebih padat dari pada pasir yang belum terinjak, sehingga peluang kita untuk melorot akan berkurang, ya kan??? Shitttttt.... Ternyata sama aja deh kayaknya,hmmm... ah sudahlah kaki harus terus melangkah, puncak masih jauh. Kami mulai sering beristirahat untuk sekedar minum dan mengisi perut dengan bekal yang kami bawa tadi.


Sempat terlihat pemandangan Kota Malang dengan gemerlap lampu-lampunya yang tampak riuh di dini hari itu, lumayan buat penyemangat di tengah perjuangan yang tak kalah riuh dan hebat, ada kalanya kami harus beristirahat kemudian dari atas terdengar teriakan “BATU...BATU...BATU” sehingga istirahat pun jadi was was, ternyata bener batu seukuran kelapa kadang menggelinding dari atas. Nggak bisa bayangin deh, kalo batu sebesar kelapa ketemu kepala,hiiiiiiii....

Hal-hal kayak gitu sukses bikin gue merinding, dan gaktau kenapa gue terharu banget. Gue sangat kecil, gue serendah-rendahnya manusia pada saat itu, dari mulut gue Cuma merendah dan berdoa, berserah diri kepada allah :’( , mungkin itu juga yang dirasakan temen-temen dan pendaki lain saat itu.

Saat puncak belum juga terlihat, saat itu pula tenaga gue benar-benar habis, berjalan satu dua langkahpun  nggak kuat rasanya. Perjalanan menuju puncak semeru benar-benar istimewa sekaligus bikin suasana haru, dan lain-lain campur aduk jadi satu, Yang terlintas dipikiran gue cuman keluarga di rumah, pacar, dan hal itu sukses bikin gue mewek terharu menitikkan air mata :( . Sambil istirahat gue terus berdoa agar diberi tenaga tambahan agar bisa sampai ke puncak.

Saat itu rombongan mulai kepisah-pisah, nuki, davig, aji, dwiki, wiku udah ada di depan. Sementara gue, fajar, romi, dan rossa berjuang bareng, dan dibawah lagi masih ada Andri, Habin, Angga, Rendra, dan Windi. Saat itu jarak kita udah mulai jauhan, nggak ada absen atau berhitung lagi. Semua udah konsen membawa tekad, dan tubuhnya masing-masing untuk menuju ke Puncak.

Melangkah lagi, merosot lagi, berdiri diem juga merosot,,,, arggghhhhhh bete... frustasi dan sempet putus asa gue dibuatnya...

Bahkan banyak para pendaki yang turun lagi karna menyerah, entah karna fisik mereka drop atau hypothermia atau di telpon emaknya,hehehehe... yang jelas gakda sinyal jeck....


Kemudian Sekitar setengah  jam’an gue, romi, fajar, rosa bersandar di bebatuan, Kadar oksigen yang semakin menipis memaksa kami menghirup tabung oksigen mini lagi secara bergantian.

Obrolan ringan di sela istirahat gue :



" Yuh, masih jauh juga rok, gilak.... " kata gue
" Baru kali ini aku mbrebes munggah gunung :( " werok
" hahahaha... semeru oh semeru..... " jawab gue
(Rossa dan fajar ubay tampak terdiam menikmati kelelahannya)

Masih jauh juga dari puncak ternyata langit di ufuk timur udah mulai bergradasi kemerahan tanda fajar pagi mulai menjelang. nggak apalah nggak dapet sunrise di puncaknya, yang penting view ke timur nggak terhalang sama sekali, jadi masih bisa menikmati momen keluarnya mentari dari cakrawala dengan leluasa. Dan gue tersadar kami berjalan dari bawah udah berjam-jam, jam seolah berlalu begitu cepat mengiringi setiap langkah kaki yang kami pijakkan.

Pemandangan sunrise terindah mungkin di tengah trek kemiringan Semeru











Akhirnya sang mentari keluar juga dari peraduannya seiring langkah kaki yang makin lelah menapaki pasir Semeru. Berhenti sejenak untuk mengabadikan pemandangan yang sangat luar biasa itu dengan mengucap subhanallah karena ditengah letih tubuh yang nggak karuan masih bisa menikmati sunrise Semeru yang luar biasa. Skali lagi, Mungkin ini menjadi salah satu sunrise terindah yang gue dapatkan. 










Mahameru (3676 Mdpl), Jum’at 24 Juli 2015

Pukul 7 kurang lima belas akhirnya gue bisa menapakkan kaki di Mahameru untuk pertama kalinya. Air mata jatuh tak terbendung, perjuangan yang melelahkan akhirnya terbayarkan setelah sampai puncak. Hiks... hiks.... hiks....

Sampai di puncak kami nyari temen-temen yang udah duluan nyampe puncak, kami berpelukan dan saling memberi selamat tanpa sadar air mata semakin jatuh lagi, ahhhh anak-anak pada cengeng nih....

Saat itu rombongan yang udah nyampe duluan di puncak ada Nuki, davig, aji, dwiki, wiku, gue , romi, Rosa, dan fajar ubay

Beberapa saat setelah menginjakkan kaki di puncak, suara gemuruh mengagetkan terdengar. Pendaki lain pun pada kocar kacir mendengar suara gemuruh diiringi semburan asap putih pekat dari Kawah jonggring Saloka.

“ Terdengar suara tidak.....tidak..... ayo... cepat cepat....asapnya keluar...!!!!!!!!!!!! ”

Ternyata mereka pada kocar-kacir sambil pasang pose buat foto-foto mengabadikan diri mereka dengan berlatar semburan kawah Semeru yang khas itu, ahhh ikutan dong pastinya gue selfie selfie,hehehehe...

Lama kami berfoto-foto, teman-teman lain belum juga tampak di puncak, eh akhirnya nongol si Andri dan Habin.... kemudian beberapa menit lagi Angga... dan yang paling terakhir adalah Rendra yang dampingin Windi yang tertinggal jauh di belakang.....

Windi terlihat paling kenceng mewek di puncak, terlihat wajahnya yang kusut berdebu mulai terbasahi oleh air matanya yang jatuh, (momen ini dipersembahkan oleh pembalut charmbodyfit)......hehehehe....

Adek manja satu ini, keliatan bahagia banget....

Alhamdulillah kami semua diijinkan menginjakkan kaki di tanah tertinggi pulau Jawa, Terima kasih Ya Allah... ini bukan kesuksesan gue, tapi kesuksesan satu team... kesuksesan kita ber-empat belas gaisssss. Hore.........

“Rasa Yang tak pernah bisa dibayar dengan apapun, rasa pertemanan yang hebat dalam waktu sesingkat itu. Perkenalan yang tak pernah terbayangkan namun begitu berkesan dan tak terlupakan” Kita satu team mencatat sejarah di memori masing-masing personal” caption @davig.

Makin siang, semakin banyak pula pendaki yang membanjiri puncak, dan setelah puas berfoto-foto kami pun melanjutkan perjalanan untuk turun kembali, ohya batas boleh sampe di puncak Cuma sampe jam setengah 10, karna setelah itu asap dari kawah jonggring saloko akan mengarah ke puncak Mahameru. Siang hari angin cendurung ke arah utara menuju puncak membawa gas beracun dari Kawah Jonggring Saloka.


Finnaly tanah tertinggi Jawa
























“Alam telah hidup jutaan tahun, Karena itu alam akan mengajarkan lebih banyak pengetahuan daripada orang-orang cerdas yang anda temui” 



Kemudian kami turun, dan ternyata perjalanan turun nggak selama kayak pas waktu naik, ya iyalah la wong tinggal merosot... perjalanan turun kami lewati dengan semangat, sekaligus memberi semangat kepada para pendaki yang masih berjuang di tengah trek Semeru... dan tak terasa 1 setengah jam kami sudah tiba di Arcopodo lagi, ohya sewaktu turun kita harus ekstra hati-hati jangan ngikutin jalur terbuka yang menuju ke kanan... karena  itu akan menggiring kita ke Zona Kematian / Blank 75 Semeru (jurang sedalam 70 meter), banyak pendaki yang mencatatkan rekor dan meninggalkan namanya disitu loh. Jadi tetep Konsentrasi sewaktu turun.





Lanjut lagi, kira – kira 1 jam setengahan lebih kami sampai Kalimati lagi, dan makan siang kemudian istirahat, kami tertidur cukup pulas saat itu, karena kondisi fisik yang drop, dan emang sengaja dipuas-puasin istirahat.

Terima kasih Tuhan YME yang mengabulkan doa gue hingga sampe kesana dan semua teman-teman yang menemani gue dan mendukung perjalanan gue ini. Love u all.

Setelah dari Kalimati ini kita rencana sore turun lagi dan camp di Surganya Semeru lagi, yeah "RANU RANU AN.... RANU KUMBOLO".







Bye bye Kalimati


Sekitaran Jam setengah 4 setelah kelar packing dan kemudian mungutin sampah bergegaslah kami menuju jalan pulang kembali... Planing Camp lagi di Ranu Kumbolo.


Setelah turun melalui jalur yang sama dengan saat berangkat, perjalanan turun terasa lebih singkat. Nyampe RAKUM sekitaran jam 6 waktu itu. Ohya, Sebaiknya kita bermalam lagi di pos Ranu Kumbolo dan perjalanan turun dilanjutkan keesokan harinya, karna apa?? tau sendiri kan keindahan Ranu Kumbolo akan selalu teringat, jadi gak rugi kalo camp lagi disana. Apalagi kondisi fisik yang sudah terkuras, Jadi kami serombongan sepakat camp karna temen-temen udah pada kecapekan juga sih. Fix... F to the I to the X... kita CAMP,yeah....

Sampe RAKUM lagi akhirnya kami bergegas buka tenda, masak buat makan malem... ngobrol santai dan istirahat. Cuaca disini dingin sekali suhu selalu dibawah 0 derajat. Berhubung malam mulai mendingin, akhirnya kita pada masuk deh ke tenda dan siap-siap bobok cakep. Berharap besok bisa bangun pagi dan melihat mentari dan senyumnya, iya senyumnya.... senyum orang-orang yang lagi pada di rumah. Meskipun cuma bayangin "Buk, Anakmu sukses sampe di puncak tertinggi Jawa." So cuittt....



"Tidak ada kebahagiaan, jika apa yang kita percaya berbeda dengan apa yang kita lakukan "

Setelah melalui malam yang dingin, ngiler, dan bobok imut di dalem dome...

Pagi pun datang, dan kami segera berfoto-foto trus sarapan, nyantai, poto-poto lagi, dipuas-puasin deh pokoknya sebelum kembali pulang :)


















Setelah kelar semuanya...

Agar perjalanan lebih bervariasi, lebih baik kita milih jalur turun via Ayek-Ayek. Tetapi jika kondisi tubuh nggak memungkinkan lebih baik lewat jalur Watu Rejeng, karena perjalanan lewat Ayek-Ayek ini akan mendaki lagi gunung Ayek-Ayek yang terjal, tapi kami tetep milih lewat jalur Ayek-Ayek, nggak papa lah, meskipun jalur turun harus mendaki gunung lagi yang terjal, tapi keindahan yang ditawarkan jalur ini sangat indah. Nggak bakalan rugi deh, cuma mungkin bakalan shock saat mendaki gunung Ayek-ayek karna tanjakannya gaisss bikin capek, tapi setelah itu bakal turun terus. Dan menghemat waktu pula. Jalur ayek-ayek biasa digunakan oleh para porter pendakian Semeru, yang jalannya gass pol gaiss.


Jam 12 an kita siap-siap turun dari Ranu Kumbolo untuk menuju Basecamp....




Foto Full Team sebelum pulang
 


Jalur Ayek-Ayek

Dari Ranu Kumbolo perjalanan dilanjutkan menyusuri padang rumput (Sabana) yang sangat luas yang biasa disebut Pangonan Cilik, setelah berjalan sekitar 45 menit menuju gunung Ayek-Ayek, perjalanan akan dihadapkan pada trek yang sangat terjal, bahkan bisa dikatakan lebih terjal dari Tanjakan Cinta, dengan melipir kearah kanan hingga sampai di puncak gunung Ayek-Ayek, dipuncak inilah kita bisa menikmati pemandangan yang sangat indah dan berbeda dari Tanjakan Cinta. Bahkan puncak Mahameru terlihat jelas dari puncak Ayek-Ayek ini. Awesome... kita baru saja menjejakkan kaki disana temen temen :')



Pertama memasuki jalur Ayek-Ayek dari Ranu Kumbolo


Padang Rumput sabana Pangonan Cilik




Padang Rumput terlihat dari lereng Ayek-Ayek


Di atas sini pula jika kita sedikit menuruni puncak ke arah utara, kita juga udah bisa ngelihat pemukiman penduduk di Ranu Pani.


Tapi jangan seneng dulu, karena perjalanan turun ke Ranu Pani masih memakan waktu yang lumayan lama.


Karna setelah melewati ladang sayuran gue kira udah hampir sampe tapi ternyata jarak dari ladang sampai kampung masih sangat jauh dan melelahkan. huftttttt.....



Peta jalur pendakian gunung Semeru


Peta jalur pendakian gunung Semeru



Sekitaran Jam 3 sampailah kami di Ranu Pani, dan tos-tosan ama temen-temen, bangga dan bahagia banget sumpah. Puas........

Setelah itu barulah gue balas dendam makan di basecamp Ranu Pani, sepiring nasi dan semangkok bakso gue lahap dengan cepat, Ya Allah makanan ini enak sekali.hehehe....


Kemudian kami mandi, sholat. dan kira-kira jam 6 kita menuju ke parkiran jeep dan truck, sepakat akhirnya kami naik truck untuk menuju pulang ke tumpang. Di truck semua pada tidur, gue pun juga ikutan tidur. Nggak terasa tibalah kami di tumpang dan kemudian naik angkot lagi menuju terminal Arjosari trus cus Surabaya dan cuss Ngawi... Di bungurasih kami kepisah lagi dengan bus untuk pulang yang berbeda.


Bye temen-temen Magelang, Lamongan, Gresik... Miis u all... :'D


Rasa kebersamaan yang tulus, semangat team yang solid, dan rasa saling menghargai yg jujur diantara 14 kepribadian, berbagi dengan ikhlas rasanya sangat indah... Yang mungkin hanya bisa didapatkan dalam sebuah pendakian... Meski mungkin bagi sebagian orang mendaki gunung itu sia-sia, tapi bagi kami tidak... Karna kami menikmatinya, kami menghargai jerih payah dan susahnya menggapai puncak, kami belajar mengenal batas diri dari terpaan alam, jauh dari zona nyaman yang kita dapatkan dari bisingnya kota... Tapi tetaplah rumah tujuan kita kembali berkumpul bersama keluarga, teman-teman dan berinteraksi dengan mereka serta menjadi pribadi yang rendah hati & lebih menghargai... Semoga tali silaturahmi kita tetap terjaga teman-teman :)


Kekuatan bukan bersumber dari kemenangan. Perjuangan adalah yang melahirkan kekuatan, ketika menghadapi kesulitan...
Cepat atau lambat,kemenangan (puncak) akan menjadi milik mereka yang percaya bahwa mereka akan meraih kemenangan (puncak)...


Catatan:
-Pendakian sebaiknya dilakukan pada musim kemarau, mengingat jika musim penghujan disana sering banget terjadi badai. Waktu yang tepat untuk mendaki biasanya pada bulan Juni, Juli, Agustus, dan September. Tapi ya suhu di musim kemarau pastinya lebih dingin.


-Untuk BAB sebaiknya menjauh dari danau Ranu Kumbolo dan gunakan sistem gali lobang tutup lobang, atau ke MCK yang udah disediain, tapi agak jorok sih di MCK nya. diharap tetap dijaga kebersihannya.


-Jangan lupa sampah wajib dibawa turun kembali, TRASHBAG harus bawa yang banyakan ya. Atau jangan naik gunung deh, kalo cuma mau nyampah,hehehe...


-Patuhi peraturan yang ada, jangan bandel. Dah gitu aja.... jadilah pendaki yang bersahaja :)



Estimasi Biaya Transport :

-Berangkat :
1. Travel dari Ngawi menuju Bungurasih Rp. 80.000
2. Bus dari bungur ke Malang Rp 15.000
3. Angkot dari terminal arjosari ke tumpang Rp 10.000
4. Jeep dari tumpang ke Ranupani Rp. 650.000 dibagi 14 orang

-Pulang :
1.Truck Ranupani ke tumpang Rp. 650.000 dibagi 14 orang
2.Angkot dari terminal tumpang ke arjosari Rp 10.000
3.Bus Patas dari Malang ke surabaya Rp 25.000
4.Bus dari surabaya ke ngawi Rp 33.0000

Cek juga cerita pendakian gue di gunung :

Pendakian Gunung Merbabu 
Pendakian Gunung lawu 
Pendakian Gunung Penanggungan 
Apa sih TRAVELER MINIM DANA?? 

dan lain-lain :
TRAVELER MINIM DANA


Jangan lupa mampir dan follow di instagramnya juga yah @travelerminimdana

Reaksi:

2 komentar:

Thanks ya udah mampir baca... share, like, dan komen juga boleh :)