Kamis, 14 Januari 2016

Rekan Pendakian




"You need special shoes for hiking, and a bit of a special soul as well."  Terri Guillemets
" Kamu butuh sepatu spesial untuk mendaki, dan juga jiwa yang spesial." 

         Kata salah satu pendaki luar negeri...

Seperti halnya mereka yang percaya, gue pun juga mengamini bahwa kualitas sebuah perjalanan turut ditentukan oleh “bersama siapa kita melakukan perjalanan itu". Ya, sebagai teman berbagi, "Rekan Pendakian” atau temen mbolang, ataupun travelmate, tentu memberikan efek yang signifikan bagi kualitas perjalanan kita.



Seperti kata pepatah, "shared joy is double joy and shared sorrow is half-sorrow"
Rasa bahagia saat menatap sunrise dari puncak, tentu akan terasa berlipat jika dinikmati bersama rekan pendakian yang punya kesamaan visi sama kayak kita. Dan kesedihan, apalagi rasa takut karena tersesat di antah berantah dan di kegelapan malam yang mencekam, tentu akan berkurang jika kita punya rekan pendakian yang selalu setia dan ada buat berbagi rasa bersama. Seru bukan?
Di beberapa kesempatan traveling, nggak jarang gue melibatkan mereka “rekan pendakian". Masing-masing dari mereka akan meninggalkan kesan tersendiri di hati. Memberikan pengalaman yang berbeda di tiap tetesnya. Hahaha…
Ketika melakukan perjalanan bersama sahabat. Inilah jenis orang yang akan sangat seru untuk diajak jalan bareng. Apalagi jika kita adalah tipe sanguinis yang sangat menikmati kebersamaan bersama sahabat. Duka pun akan terasa bahagia. Dan prinsip “ happiness only real when shared ” akan benar-benar kerasa. Berlari menghindari hujan, terpeleset di jalanan licin pendakian, menikmati momen makan dan masak bareng, ngopi di ketinggian tentu akan jadi kebahagiaan yang nggak akan pernah terlupakan. Mengukir sensasi dan melakukan kegilaan yang tentunya akan memancing gelak tawa bila diceritakan ulang, lima atau sepuluh tahun mendatang, bahkan selamanya.
Walau nggak melulu kesenangan yang datang menghampiri atau beda pendapat, hal itu ternyata bisa semakin mendekatkan kita sama kawan. Dengan intensitas dan level berbagi yang sangat tinggi membuat banyak hal terkuak yang sulit terungkap bila tidak dilakukan dengan rasio rutin. “Pendekatan untuk mengetahui lebih jauh terhadap seseorang".
Kadang teman kita tinggal di kota, rekan kerja, atau tetangga komplek di dunia nyata bisa jadi nggak se-friendly rekan pendaki. Emang kecap, Indomie, rokok, sama gula pasirnya rela dibagi?

Di gunung:
“Misi Mas, boleh minta kecap?”
“Oh, silakan-silakan. Mau kopi panas juga nggak? Baru bikin nih.."
"Ngrokok gak mas?rokok mas nih.."
"oh iya mas...."

Di komplek : 
“Bang misi..boleh minta kecap? Saya kehabisan nih…”
“Duh Mas, warungnya kan deket tuh di ujung gang. Beli sendiri aja ya??

Di kantor : 
"Bro, tolong dong bla bla bla...
" wah, aku lagi repot "

"Kerjaan banyak butuh rokok juga nih"
"(Temen ngumpetin rokok)"
  
         Ada kan pasti, contoh-contoh di atas yg pernah kalian alamin...

Di gunung semua sama, karena kebanyakan merasa senasib sepenanggungan, berbagi di alam terbuka  bagi rekan pendakian akan sangat bermakna sekali...
Kalo punya temen yg suka nyiyirin hoby lo yang suka mendaki, mungkin emang mereka belum pernah dan belum paham tentang makna sebuah pendakian, dan tentu saja mereka nggak akan tau, kalo mereka ngak nyoba...  Atau hal yang lebih parah adalah mereka terlalu berpikiran sempit dalam memandang sesuatu hal, sehingga sulit menerima perbedaan, jadi punya temen kayak gini biasanya bikin serba salah... so mending cukup diemin aja dan senyumin aja...
Nggak jarang kan denger, bully bully dari yang anti naik gunung... Yang katanya ngabisin uang, kurang kerjaan dsb...
Pendaki gunung hobynya menghabiskan uang cuma buat jalan-jalan ya?? Mmm... memang terlihat begitu ya? Mungkin di sini gue bilang kami "beda". Ketika orang lain mendapatkan kenyamanan pekerjaan yang dia sukai, lalu mendapatkan uang, pasti berpikir buat nongkrong sebentar di karaoke, buat ngelepas pusing kerjaan seharian di kantor, atau nongkrong di restoran kopi yang secangkirnya bisa dua puluh ribu. Ataupun akhir pekan di lewatkan buat belanja dengan pasangan dan keluarga nge-mall, nonton bioskop, ke taman hiburan atau seharian di rumah nonton dvd. Kami “beda” kami juga bekerja, kami juga hidup seperti orang biasa, tapi cara melepaskan lelah versi kami sedikit berbeda. Kalo pekerja yang lain merasa santai jika sudah berteriak-teriak di karaoke dan minum kopi di sofa empuk, kami santai jika tidur di depan terminal atau stasiun sambil menunggu kereta atau ketinggalan kereta. Kami santai jika sudah mengendong beban berat seperti kura-kura menuju terminal,stasiun atau pelabuhan. Setiap manusia pasti butuh santai, dan cara menghabiskan uangnya pun beda beda, buat kami bukan sekedar buat jalan-jalan… Tapi kata teman gue… “perjalanan rasa" skali lagi... Soal perjalanan rasa... Jadi jawabannya “kita tetap sama aja kaya yang lain, cuma cara kita beda" 



Pengalaman perjalanan ngajarin gue buat lebih berpikiran terbuka terhadap sifat dan karakter manusia. Membuat gue menjadi lebih bertoleransi terhadap sesama. Pengalaman perjalanan gue udah memberikan gue banyak kenangan dan juga banyak kesan. Baik itu yang menyenangkan, ataupun yang nggak mengenakkan. Tapi walaupun begitu, gue selalu bersyukur karena pernah merasakannya. Bukankah pengalaman adalah guru yang paling baik?
Pengalaman dari perjalanan membuat gue mempedomani satu hal: bila gue sedang mau untuk melanglang buana, ada baiknya dulu gue tahu apa yang menjadi landasan traveling gue saat itu. Bila ditemani seseorang adalah yang gue harapkan, carilah teman! Bila demi memuaskan haus jiwa untuk bertualang, bawalah sebuah tas yang memudahkan perjalanan, bukan menyulitkan. Bila untuk melepas kepenatan dan bertekad untuk membawa pulang semangat jiwa yang baru, bawalah diri ini terus bersama dan bertekad buat ngedapetin “sesuatu” itu pada perjalanan kali ini, terbukalah....
Bagi gue, teman perjalanan yang ideal selain sahabat pendakian adalah “diri sendiri yang ingin gue penuhi dengan luapan pengalaman perjalanan yang berwarna warni".
"Travel only with thy equals or thy betters; if there are none, travel alone."

Jadi bukanlah sebuah trend atau mainstream belaka buat bawa pulang kisah 
"eh saya baru jalan-jalan dari sana loh, disana ada blablabla, saya pergi kesana bersama blablabla” buat diceritakan ke kawan dari sebuah perjalanan.
Bukan bersama siapanya yang akan buat kisah perjalanan itu keren, tapi apa yang didapat dari perjalanan lah yang punya manfaat, paling tidak untuk diri masing-masing.
Jadi, penuhilah diri kalian dengan rasa warna-warni pelangi sebuah perjalanan, Karena hidup adalah soal rasa.. rasa bagaimana kamu menikmati setiap perjalanan bersama sahabat-sahabatmu...

Intinya, perjalanan naik gunung bukan sekedar jalan-jalan, rekreasi, mengejar ambisi puncak tapi selebihnya dari itu yang terpenting adalah proses. Proses pendakian itu tersendiri, instropeksi diri, bersyukur, menikmati sebuah arti kebersamaan bersama rekan pendakian diantara cangkir-cangkir teh dan kopi yang mulai dingin. Diantara kabut tipis yang datang dan pergi.
Mari selangkah lagi melangkah, menuju titik hidup selanjutnya, bersiap buat level lebih tinggi lagi. Tantangan-tantangan baru lagi, jalan-jalan mungkin akan lebih terjal tentunya, dan angin yang mungkin lebih kencang dari sebelumnya.
Kata ayah rekan seperjalanan gue, “Wong urip kui sing goleki sumur, dudu sumur sing goleki wonge”.....
Intinya jika ingin mencari pengalaman keluarlah, berjalanlah cari sumber-sumber air pada orang-orang yang mungkin bisa memberikannya kepadamu.



Buat Yang Pengen tau alasan-alasan apa yang melatar belakangi seseorang naik gunung, pliss baca yang dibawah ni,hehehehe.....
Dari gunung aku belajar 
Apa enaknya mendaki gunung 

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Thanks ya udah mampir baca... share, like, dan komen juga boleh :)