Minggu, 18 September 2016

Misteri dan Mitos Gunung Lawu

Misteri Gunung Lawu, Mitos dan Pantangannya



Gunung Lawu adalah gunung yang dikeramatkan oleh penduduk sekitar terutama penduduk yang tinggal di kaki gunung. Nggak heran kalau pas bulan-bulan tertentu seperti bulan Syuro penanggalan Jawa, gunung ini akan ramai didatangi oleh para peziarah terutama yang datang dari daerah sekitar kaki Gunung Lawu seperti daerah Tawangmangu, Karanganyar, Semarang, Madiun, Nganjuk, Ngawi dan sebagainya.

Mereka sengaja datang dari jauh dengan maksud terutama meminta keselamatan serta kesejahteraan hidup di dunia.

Lokasi yang dikunjungi para peziarah terutama tempat yang dianggap keramat seperti petilasan Raden Prabu Brawijaya "Hargo Dalem", Selain itu tempat-tempat lain seperti Sendang Derajat, Telaga Kuning, dsb. (Intro)


Kisah misteri keangkeran gunung lawu emang sering dikait-kaitkan dengan beberapa peristiwa yang terjadi disekitaran gunung tertinggi kelima di pulau jawa itu, Gunung Lawu termasuk seven summit of java (7 puncak tertinggi Jawa)

Lalu, lantas, trus, apa aja mitos mistis maupun pantangan dari Gunung Lawu itu sendiri??
Yuk, simak....

7 Mitos Misteri Gunung Lawu dan Pantangannya versi ON THE COPOT...



1. Peristirahatan Brawijaya V



Gunung kelima tertinggi di Pulau Jawa  "LAWU" merupakan tempat peristirahatan terakhir raja Majapahit. Moksa nya atau tempat penghabisan Prabu Brawijaya V. Berawal ketika kerajaan Majapahit ada di bawah pemerintahan Sinuwun Bumi Nata Prabu Brawijaya Pamungkas. Tepatnya saat anaknya, Raden Patah telah menginjak dewasa dan memutuskan untuk memeluk agama Islam, bukan agama Buddha seperti yang dianut oleh kedua orang tuanya. Terus, ketika udah ngerasa mantap memeluk agama Islam, Raden Patah pun ngebangun kerajaan Demak, sang ayah jelas ngerasa khawatir.

Untuk menghindari kekhawatirannya, sang Prabu bertapa untuk dapetin wangsit yang bisa ngasih pencerahan ke pikirannya, dan bukannya wangsit yang didapat, malah dia mimpi kalo kerajaan Majapahit yang diperintahnya bakal kehilangan cahaya, karena cahaya kemakmuran itu justru beralih ke kerajaan Demak yang diperintah oleh sang anak. Udah tau begitu, sang Prabu pergi dari istananya tanpa ada seorang rakyat pun yang tahu trus dia kabur ke gunung Lawu.

Nah, di tengah perjalanan menuju puncak gunung Lawu, sang Prabu ketemu sama 2 orang kepala dusun yang masing-masing bernama Dipa Menggala sama Wangsa Menggala. Kedua kepala dusun itu kemudian nemenin si Prabu dengan setia sampe puncak Hargo Dalem. Dalam perjalanan itulah sobat, sang Prabu ternyata ngangkat (bahasa kerennya sih melantik) Dipa Menggala jadi penguasa abadi gunung Lawu dan jadi boss dari semua mahluk gaib yang ada di seantero gunung, keren ya jabatannya..

Kalo si Dipa Menggala udah jadi boss-nya hantu-hantu di seluruh gunung Lawu, trus gimana nih sama nasib si Wangsa Menggala? Ternyata, Wangsa Menggala diangkat jadi patih dengan sebutan Kyai Jalak. Dan ternyata sampe akhir hayat si Prabu, kedua kepala dusun ini menjelma jadi mahluk gaib dan menjaga gunung Lawu sampe saat ini karena kesetiaannya dan karena tanggung jawab yang diberikan oleh si Prabu untuk ngejaga gunung Lawu.

Jadi, banyak orang yang sampe saat ini masih setia ngelakuin kegiatan sakral atau aktivitas spiritual di gunung ini karena ada dua boss gaib yang masih setia ngejaga gunung ini. Begitu ceritanya.

Di sisi utara lawu terdapat lapangan atau sabana bernama Bulak Peperangan. Konon katanya, tempat ini merupakan tempat peperangan kerajaan Majapahit pimpinan Brawijaya V dengan kerajaan Demak yang dipimpin Raden Patah dan Kerajaan Cepu yang dipimpin adipati Cepu. Menurut cerita masyarakat, jika malam hari camp di Bulak Peperangan kita akan mendengarkan suara pertempuran. Ada lagi sendang drajat dan sendang panguripan, sumur jolotundo, cokrosuryo, yang katanya juga sempat disinggahi sang prabu. Dan tempat-tempat lain di gunung Lawu yang menyimpan hawa mistisnya.



bulak peperangan


Dari berbagai tempat mistis yang disinggahi sang prabu, anehnya nggak satupun ditemukan jasad sang prabu atau dua pendampingnya tadi. Dia diduga menghilang bersama raganya alias moksa.


2. Kyai Jalak


Sang prabu ditemani abdi dalemnya yang setia yakni Kyai Jalak . Sama seperti tuan nya, Kyai Jalak juga bermoksa dan menjelma jadi burung Jalak sesuai namanya. Namun Jalak jelmaan kyai bukan berwarna hitam melainkan pink, polkadot, "warna gading". Nggak semua pendaki bisa bertemu dengan Jalak ini. Kyai yang menjelma sebagai jalak gading ini dipercaya memberikan petunjuk bagi pendaki untuk sampai ke puncak, hanya untuk pendaki yang dikehendaki oleh Jalak Lawu ini. Sebaliknya, jika pendaki itu nggak memiliki hati bersih, Jalak Lawu nggak akan muncul. Pendaki biasanya tidak akan sampai puncak sebab nggak memiliki restu dari Kyai Jalak. Entah sombong, bicara sembarangan, ataupun meremehkan alam. Di perjalanan pasti akan tertimpa musibah, tersesat atau kesialan, konon!!!



3.Terjadi seperti perkataan
Mulutmu harimau mu...
Gunung Lawu seolah punya nyawa yang bisa denger setiap kata-katamu. Apa pun yang kamu keluhkan biasanya terwujud. Jika kamu mengatakan kelelahan mendaki Lawu, kamu benar-benar akan dibuat lelah. Jika kamu mengatakan sangat dingin, kamu bisa dibikin kedinginan. Kalau kamu sombong dan congkak, lawu akan menunjukkan betapa ganasnya alam dan hutan rimbanya. Jika kamu mengeluh karena kesepian di perjalanan kamu sebaiknya cari temen atau kamu dapat temen gaib.hehehe...
Sebelum mendaki niat yang baik, jaga perkataan, patuhi peraturan dan adat istiadat dan terus berdoa sama yang di atas. Insya'Allah lancar.



4. Pasar Setan

Pasar Setan
Pasar Setan ternyata nggak hanya terdapat di Gunung Merapi dan gunung lain nya. Pasar mistis ini juga diyakini ada di Gunung Lawu. Dan emang ada. Kalau kalian lewat jalur candi cetho atau Jogorogo (sisi utara lereng Lawu) kalian akan nglewatin pos Pasar setan, dimana banyak batu-batu bertumpuk. Kalau dari jalur cemoro kandang atau dari utara mbok yem, Pasar setan lokasi nya bisa dilihat samar-samar dari jauh.

Pasar ini nggak terlihat dengan mata biasa namun katanya kalau nglewatin akan terdengar keramaian. Hanya orang-orang tertentu yang bisa mendengarnya. Jika kamu mendengar suara "arep tuku apa mas/mbak?’ (mau beli apa mas/mbak)" sebaiknya kamu membuang uangmu, berapa pun nilainya. Lalu petiklah daun seperti sedang berbelanja. Jika ini nggak dilakukan, konon kamu bakal menghadapi masalah di Lawu. Dan jika terdengar suara "weki terlalu apik kanggo aku (kamu terlalu baik buat aku)" sebaiknya kamu membuang kenanganmu jauh-jauh sama mantan.hahaha.... Seriusan amat...


5.Kupu-kupu hitam dengan bulatan biru

Gambar Hanya Ilustrasi
Kupu-kupu hitam dengan bulatan biru di sayapnya. Kalau kamu melihat kupu-kupu ini pertanda kamu diterima baik di gunung ini. Bahkan beberapa orang percaya ketemu berkah setelah pulang mendaki dan ketemu kupu-kupu ini. Namun jangan sampai menangkap, mengusir, mengganggu, bahkan membunuh si kupu-kupu, ya. Penunggu Lawu bisa murka sama kamu!! Hiiii.... 

Ingat jangan mengambil apapun kecuali gambar, jangan membunuh apapun kecuali waktu, jangan meninggalkan apapun kecuali jejak.


6.Pantangan busana hijau


Pantangan lain yakni dilarang memakai busana berwarna hijau daun. Hijau merupakan busana ratu Pantai Selatan yakni Kanjeng Ratu Kidul yang nggak sembarangan dipakai di Jawa. Trus hubungannya sama Lawu? Gue juga nggak tau. Tapi konon katanya kalau memakai pakaian warna hijau, kamu akan tertimpa kesialan. Karena si penghuni nggak terlalu suka sama orang yang memakai pakaian hijau.

Selain itu warna hijau akan sulit dikenali sama TIM SAR, kalau kita tersesat. logisnya sih gitu...


7. Rombongan jumlah ganjil dan Keturunan Cepu dilarang ke Lawu

Kamu yang hendak mendaki Gunung Lawu, dihimbau jangan pernah mendaki Gunung Lawu dengan rombongan berjumlah ganjil. Konon hal itu bisa mendatangkan kesialan, percaya nggak percaya... Katanya kalau berangkat dengan jumlah ganjil, yang akan menggenapkan adalah mahluk gaib, sehingga kita akan merasa berat diperjalanan dan sial. Wallahualam.... 

Keturunan Cepu....
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat yang tinggal di kaki gunung, bahwa Brawijaya lari ke Gunung lawu untuk menghindari kejaran pasukan Demak yang dipimpin oleh putranya yang bernama Raden Patah, serta dari kejaran pasukan Adipati Cepu yang menaruh dendam lama kepada Raden Brawijaya.

Menurut kisah, setelah runtuhnya kerajaan Majapahit, muncul kerajaan Islam yang berkembang cukup pesat yaitu Kerajaan Demak, Saat itu Raden Patah bermaksud mengajak ayahnya yaitu Raden Brawijaya memeluk agama Islam, tapi Raden Brawijaya menolak ajakan anaknya untuk memeluk ajaran yang dianut Raden Patah.

Raden Brawijaya nggak ingin berperang dengan anaknya sendiri dan kemudian Raden Brawijaya melarikan diri. Penolakan ayahnya untuk memeluk agama Islam membuat Raden Brawijaya terus dikejar-kejar oleh pasukan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah.

Untuk menghindari kejaran pasukan Demak, Raden Brawijaya melarikan diri ke daerah Karanganyar.
Disini Raden Brawijaya sempat mendirikan sebuah candi yang diberi nama Candi Sukuh yang terletak di Dusun Sukuh Desa Berjo Karanganyar. Tapi belum juga merampungkan candinya, Raden Brawijaya keburu ketahuan oleh pasukan Demak, Pasukan Demak dan pengikut-pengikut Raden Patah terus mengejarnya sehingga Raden Brawijaya harus meninggalkan Karanganyar dan meninggalkan sebuah candi yang belum rampung.

Kemudian Raden Brawijaya melarikan diri menuju kearah timur dari Candi Sukuh. Di tempat persembunyiannya, Raden Brawijaya sempat pula mendirikan sebuah Candi, tapi sayang tempat persembunyian Raden Brawijaya akhirnya diketahui oleh Pasukan Demak. Raden Brawijaya melarikan diri lagi dengan meninggalkan sebuah candi yang sampai sekarang dikenal masyarakat dengan sebutan Candi Ceto.

Karena merasa dirinya telah aman dari kejaran Pasukan Demak, Raden Brawijaya sejenak beristirahat akan tetapi malapetaka selanjutnya datang lagi kali ini pengejaran bukan dilakukan oleh Pasukan Demak tetapi dilakukan oleh pasukan Cepu yang mendengar bahwa Raden Brawijaya yang merupakan raja Majapahit bermusuhan dengan kerajaan Cepu masuk wilayahnya sehingga dendam lama pun timbul.

Pasukan Cepu yang dipimpin oleh Adipati Cepu bermaksud menangkap Raden Brawijaya hidup atau mati. Kali ini Raden Brawijaya lari ke arah puncak Gunung Lawu menghindari kejaran Pasukan Cepu tapi nggak satu pun dari pasukan Cepu yang berhasil menangkap Raden Brawijaya yang lari ke arah puncak Gunung Lawu lewat hutan belantara.

Didalam persembunyian di Puncak Gunung Lawu, Raden Brawijaya merasa kesal dengan ulah Pasukan Cepu lalu dia mengeluarkan sumpatan dan sumpah serapah kepada Adipati Cepu yang konon isinya jika ada orang-orang dari daerah Cepu atau dari keturunan
langsung Adipati Cepu naik ke Gunung Lawu, maka nasibnya akan celaka atau mati di Gunung Lawu

Dan katanya bahwa sumpatan dari Raden Brawijaya ini sampai sekarang tuahnya masih diikuti oleh orang-orang dari daerah Cepu terutama keturunan Adipati Cepu yang ingin mendaki ke Gunung Lawu, mereka masih merasa takut jika melanggarnya.



Sumber : Wikipedia dan lain-lain....

Reaksi:

1 komentar:

  1. Syukur Alhamdulillah di tahun ini Saya mendapatkan Rezeki yg berlimpah sebab sudah hampir 9 Tahun Saya bekerja di (MALEYSIA) tdk pernah menikmati hasil jeripaya saya karna Hutang keluarga Sangatlah banyak namun Akhirnya, saya bisa terlepas dari masalah Hutang Baik di bank maupun sama bos saya di Tahun yg penuh berkah ini,
    Dan sekarang saya bisa pulang ke Indonesia dgn membawakan Modal buat Keluarga supaya usaha kami bisa di lanjutkan lagi,dan tak lupa saya ucapkan Terimah kasih banyak kepada SHOLEH PATY karna Beliaulah yg tlah memberikan bantuan kepada kami melalui bantuan Nomor Togel jadi sayapun berhasil menang di pemasangan Nomor di TOTO MAGNUM dan menang banyak
    Jadi,Bagi Teman yg ada di group ini yg mempunyai masalah silahkan minta bantuan Sama KI SHOLEH PATY dgn cara tlp di Nomor ;0825-244-669-169 percaya ataupun tdk itu tergantung sama anda Namun inilah kisa nyata saya

    BalasHapus

Thanks ya udah mampir baca... share, like, dan komen juga boleh :)