Kamis, 09 Februari 2017

Pendakian Gunung Merapi Via Selo

Pendakian Gunung Merapi





Gunung Merapi dengan ketinggian 2.930 mdpl adalah salah satu gunung teraktif di dunia. Lereng selatan gunung ini berada dalam wilayah Kabupaten Sleman, Yogyakarta, dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang, Boyolali, serta Klaten. Kawasan hutan di sekitar puncaknya jadi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) sejak tahun 2004. (Wikipedia)


Saat ini pendakian via jalur New Selo merupakan satu-satunya jalur resmi Gunung Merapi setelah erupsi pada tahun 2010. New Selo berada di tengah-tengah antara Gunung Merapi dan Merbabu, tepatnya di Dukuh Plalangan, Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Berjarak kurang lebih 2 km dari Polsek Selo.

Sebelum menuju ke New Selo kita harus ke basecamp Barameru terlebih dulu. Sampe tempat ini kendaraan pribadi kemudian kita parkir, trus registrasi tiket pendakian. Di basecamp Barameru fasilitas cukup lengkap, kita bisa istirahat n repacking ulang. Serta makan atau sekedar ngopi santai.



Pada tahun 2010 silam. Saat itu Sang Merapi mengeluarkan lahar dan awan panasnya ke arah selatan dan memakan banyak korban jiwa. Bahkan Mbah Maridjan Roso Roso sang juru kunci pun turut menjadi korban terjangan wedus gembel yang meluluh lantahkan lereng selatan Gunung Merapi. Hal itu udah terjadi berulang-ulang dan memiliki siklusnya sendiri. Meski begitu masyarakat di sekitar lereng Merapi nggak mau pindah dari kawasan tersebut. Buat mereka Gunung Merapi adalah sosok ibu sekaligus mahaguru yang nggak bisa ditinggalin, atau untuk move on aja mungkin susah. Hal itu karena mereka percaya, bahwa setelah erupsi Merapi pasti akan menyuburkan ladang-ladang warga dan memberikan hasil yang berlipat ganda.



Gunung Merapi bukan sekedar fenomena alam. Ada kebudayaan dan kepercayaan yang tumbuh berimpit disana. Pantai Selatan, Keraton Yogyakarta, dan Gunung Merapi berada dalam satu garis lurus yang dihubungkan oleh sumbu imajiner. Masyakarat Jawa mempercayai bahwa Laut Selatan melambangkan elemen air, Gunung Merapi elemen api, dan Keraton adalah penyeimbangnya. Ketiganya dikenal sebagai trinitas kosmologi. Dan kali ini gue akan merayapi elemen api itu dengan segala keelokannya.

Berdiri dengan tegak menjulang dan curam, Gunung Merapi seolah-olah memamerkan kegagahannya dan memanggil gue dan kawan-kawan untuk menghampirinya. Hingga akhirnya pada 26 November 2016 pagi, gue, Rendra, Nuki, dan Yoga memutuskan menjawab panggilan Merapi. Setelah mempersiapkan rencana trekking sejak jauh-jauh hari, kita pun memacu kendaraan menuju basecamp Barameru di Selo, Boyolali dari Ngawi. Saat itu kami berangkat habis Subuh. Dan kemudian janjian ketemu di Solo sama pendaki-pendaki lain, Nevo dan Aar anak Ngawi juga yang lagi di Solo pun bergabung. Ada lagi cewek-cewek anak akbid karanganyar Nanda, trus duo hijabers Yuli dan Ika, Ketambahan lagi pendaki lawas kartosuro Mas Adi namanya, kenapa lawas? yah sesuai tampilannya yang lawas banget deh pokoknya,wkwkkw…. Begitu kami mengejeknya,hahaha… Dari sekian banyak lelaki yang mendaki gunung yang pernah gue temuin, mungkin cuma dia yang nanjak pake sandal slop karet kayak di hotel, dan bukan sandal gunung. Dalam hati gue bertanya “Serius nih”, tapi sebelum anak-anak pada nanya dia udah cerita alas n pake sandal ntu, wah bisa baca pikian nih mas Adi.

“Kalo musim hujan gini enaknya pake sandal mas”

“kok gak pake sepatu mas” Tanya gue.

“sepatu
aku tinggal, nyaman gini ajalah mas” kata dia

“Okelah (dalam hati “serah deh”) jawabgue

Setelah team berkumpul semua, kami segera menuju New Selo..yah jalan yang nggak asing banget, karena tahun 2014 pas ke Merbabu kita juga nglewatin jalan ini. Sampai pasar Cepogo kami belanja logistic kemudian Cusss new selo…

Sampai di polsek selo sekitaran pukul 13.00, kemudian kami sholat dan makan siang, hujan pun turun cukup deres sampe pukul setengah tiga. Setelah hujan cukup red
a gue dan tim melanjutkan perjalanan ke basecamp Barameru Merapi.


Pendakian Gunung Merapi Pun kami mulai


Sebelum mulai nanjak, kita wajib lapor ke pos Barameru yang menjadi basecamp pendakian Gunung Merapi di jalur utara atau Selo. Selain jalur Selo, sebenarnya ada juga jalur pendakian lain seperti Deles (Klaten), jalur Babadan (Magelang), dan jalur Kinahrejo (Yogyakarta). Namun akibat lebatnya vegetasi dan juga erupsi 2006 dan 2010, jalur-jalur itu udah nggak layak buat dilewatin. Sehingga jalur paling populer, paling aman, dan paling mudah adalah jalur Selo, Boyolali. Fix......



Selain lapor, kamu juga bisa repacking barang bawaan, pesen makanan atau minuman hangat, dan mencari teman perjalanan menuju puncak Merapi. 
Gue dan kawan-kawan pun mulai menata ulang barang bawaan dan melakukan pemanasan serta peregangan otot. Hal ini penting dilakukan ketika kita mau nanjak, kegiatan yang membutuhkan kekuatan fisik dalam skala besar.

Saat jam digital menunjukkan angka 15.30 WIB, kita pun mulai bergerak. Jalur beraspal dengan kemiringan yang curam menjadi sambutan pembuka yang berat dan cukup mengagetkan. Nafas pun menjadi tersengal-sengal. Welcome sign dengan tulisan New Selo seperti di Gunung Lee, Griffith Park, Los Angeles dengan tulisan Hollywood-nya pun kita lalui.




Sebelumnya tim sempat berhenti sejenak buat ngatur nafas serta detak jantung yang mulai berpacu dengan hebat karna jalan beraspal yang nanjak tadi dan tebalnya kabut yang sedikit mengganggu pernapasan saat itu dari basecamp sampe new selo ini. Nggak pengen lama-lama karna takut gakbisa move on, Kami pun meneruskan pendakian menuju gerbang TNGM, kira-kira 45 menit berjalan hingga sampai gerbang pendakian, perjalanan diiringi rintik hujan yang setia menemani langkah kala itu. Trek terus menanjak berupa cor coran dan kemudian berganti tanah. Jurang di sebelah kiri jalan menemani perjalanan. Sesampainya di atas kami bertemu kebun warga. Jalur pendakian Merapi dari basecamp New Selo dimulai dari track ladang penduduk, dimana, setiap kali gue ngeliat ada wortel/kol/sawi/kentang dan lainnya hasrat pengen nyolongin buat dimasak di atas itu gede banget. Untung selama ini gue bisa nahan diri....Syukurlah...

Sampai di gerbang pendakian kami ketemu pendaki dari Jogja “SLACKER HIKER” Uki Wardoyo Dkk mereka udah nanjak kemaren dan katanya lagi perjalanan turun, Setelah ngobrol garing dan basa-basi kemudian kita diajakin bikin video MANEQUIN CHALENGE,hmmmm... Tapi gak papalah buat lucu-lucan,hahaha… kelar… kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 1. Dan kemudian mereka lanjut turun.... Bay...




Perjalanan dari gerbang pendakian TNGM menuju Pos 1, Jalur masih didominasi pepohonan pinus, lamtoro dan akasia gunung, Vegetasi mulai lebat karena kita udah masuk hutan. Untuk mencapai Pos I dibutuhkan waktu sekitar 1 sampai 1,5 jam dengan trek yang lumayan nanjak dan menanjak. Berjalan beberapa menit kita akan menemui percabangan, ke kiri melewati jalur Kartini yang sedikit landai, atau bisa juga lurus.


Jalur Pendakian Gunung Merapi Pos 1 – Pos 2



Dari Pos 1 ke Pos 2 kami ngabisin waktu sekitar 2  jam. Jalur didominasi oleh pepohonan kayu dan bebatuan dengan tingkat kemiringan tanah bermacam-macam, dari landai hingga terjal. Hati hati juga di jalur ini, karena di beberapa lokasi jalur berada di bibir jurang, yah bibir jurang yang gak se sexy bibir ariel tatum. Kalo kamu melakukan pendakian di malam hari, siapkan betul alat penerangan seperti senter atau headlamp supaya jalur pendakian terlihat jelas. Dan kebetulan saat itu matahari udah mulai tenggelam, headlamp mulai kami nyalakan, dan rintik hujanpun setia menemani langkah kami, trek berupa tanah dan batu batu gede yang bikin ngos-ngos an

Setelah nglewatin beberapa tanjakan yang cukup terjal, kita akan menemui semacam tugu dengan tinggi sekitar 1,5 meter. Dilanjutkan dengan jalur yang kemudian landai dan sampailah gue di Pos II. Banyak pendaki yang memilih mendirikan tenda di tempat ini. Untuk mendirikan tenda, pendaki harus menuruni lereng-lereng di sebelah kiri dan mencari spot yang ideal, hati hati karna mepet jurang loh.

Karena udah gelap dan si Nanda yang fisiknya udah nge drop, nangis nangis yang bersinkronisasi dengan suara gerimis yang sedari awal setia kagak reda-reda, akhirnya kita sepakat camp disini. Setelah tenda berdiri, hujan makin deres. Ngopi, masak, makan malam BTW mas Adi perhatian banget ama kita di Pos 2 nih, bikinin kopi, dan masakin nasi buat kita, meskipun agak kurang mateng,hihihihi... Kelar maem, Kemudian gue dan team istirahat buat nglanjutin summit besok paginya.




Bangun pagi, Eek, Sarapan kemudian ngelihat view di sekitar. Di sisi barat, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Dataran Tinggi Dieng, dan Gunung Selamet juga nampak gagah karena terpapar bias sinar sang surya. Di sisi utara, jelas dan tegas terlihat Gunung Merbabu. Dan yang terakhir  sebuah gundukan batu besar nan gagah yang sering mengeluarkan isi perutnya ke berbagai penjuru dan sudah banyak memakan korban tetapi selalu di sayang oleh masyarakat sekitar, puncak Gunung Merapi. Kemudian kami ketemu Andry Cs dan kawan-kawan, pendaki dari Ngawi juga di Pos 2 ini.



Jalur Pendakian Gunung Merapi Pos 2 – Watu Gajah – PasarBubrah



Dari Pos 2 ke Watu Gajah, kita makan waktu sekitar 30 menit nyantai. Perjalanan menuju Puncak Merapi sebenernya gak jauh beda kayak pencarian jati diri, juga pencarian cinta sejati. Terjal, vertikal, berbatu, berpasir, dan dingin sekaligus terik. Angin bergerak dari lembah menuju ke puncak, kadang perlahan dan kadang kencang. Suaranya menciptakan harmoni alam yang indah. Sekaligus kabut yang menutupi view Merbabu yang emang kelihatan jelas banget dari Merapi. Nuki nggak ikut summit, karna mau tiduran di tenda katanya, dan karena udah pernah summit ke Merapi sebelumnya sih.



Jalur Pendakian Gunung Merapi Watu Gajah – Puncak Gunung Merapi


Sebelum sang surya mulai meninggi, kita meneruskan langkah menuju Puncak Merapi. Dari Pos Watu Gajah ke Pasar Bubrah perjalanan sekitar 30 menit. Sesampainya di Pasar Bubrah kita beristirahat dan sesekali mengabadikan lanskap view di sekitar, yang kadang berkabut, kadang nggak, kadang berkabut lagi.

Ribuan tahun yang lalu kala para pendekar masih naik naga, Pasar Bubrah merupakan kawah utama Gunung Merapi. Kini kawasan ini berubah jadi hamparan pasir dan batuan dengan ukuran yang sangat luas. Tiap 17 Agustus, kawasan Pasar Bubrah ini dijadikan lokasi upacara.






Dari Pasar Bubrah gue dan tim melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Merapi. Ada sedikit kemiripan dengan jalur menuju Puncak Gunung Semeru, yupzz.. jalur pasir menanjak. Sedikit flashback pas summit top Semeru, bedanya mungkin Cuma jalur summit merapi belum sedahsyat dan memakan waktu lama kayak di Semeru buat dilaluin,hehehehe….

Karna medan yang berpasir dan berbatu itu siapapun harus hati-hati. Carilah pijakan yang kokoh agar kaki kita nggak terperosok atau terpendam di hamparan pasir. Jangan lupa juga buat tetep merhatiin atas ketika ada pendaki lain, supaya bisa ngehindarin batu yang sewaktu waktu terlontar dari atas. Mendadak gua ingat sama Mas Adi yang udah di depan pake sandal hotelnya,wkwkwk….




Si Mas Adi ini setia banget nemenin si Ika dari Awal perjalanan, dan ternyata terungkap siAdi ini kata yuli dan Nanda, lagi kasmaran ama Ika,owww gitu…pantes....hmmmm....
Setelah beberapa menit menikmati trek berpasir merapi, dan nafas yang mulai ngos-ngosan. Gue pun harus banyak menghela nafas. Di hadapan gue saat itu adalah track terjal vertikal. Jauh dari kata aman, mungkin sekitar 300 meter di bawah gue adalah Pasar Bubrah penuh dengan batu. Kalau gue terhempas dan terguling-guling dari atas dan kena batu yang menggelinding dari atas, bisa dipastikan minimal gue akan nanya siapa gue? apakah gue ganteng? apakah gue seorang bujangan kaya raya? apakah mantan gue udah putus sama pacar barunya? Kapan gue nikah? begitulah. Nasib paling apes, gue langsung disuruh masuk surga sama Tuhan. Etapi kalau ngeliat amalan di dunia sih, keknya gue disuruh icip-icip neraka dulu bentar...fak





Pasar Bubrah view dari atas



Setelah 1 jam mendaki dengan susah payah, gue pun mulai mencium aroma belerang yang cukup kuat, pertanda puncak makin deket. Ternyata bener, kami udah sampe di puncak. Rasa lelah dan sakit di kaki akibat gesekan pasir yang masuk ke dalam sepatu serta beratnya trek maha nanjak hilang ketika melihat kawah Gunung Merapi secara langsung. Mengerikan, takjub, bangga dan semua rasa melebur menjadi satu di Puncak Gunung Merapi ini mengingat kejadian 2010 silam. 

Titik Puncak Merapi tertinggi sebenernya adalah Puncak Garuda, tapi butuh nyali dan kemampuan khusus buat naik disitu, gue??? no no no, cukuplah gue sampe di puncak Merapi, dan bukan titik tertinggi Merapi, bukan karena nyali, bukan juga kemampuan, tapi percayalah tujuan utama gue adalah pulang ke rumah dengan selamat "safety first". Dan gue harus mengalahkan diri sendiri untuk tidak tergoda menuju puncak Garuda. Apalagi udah banyak makan korban, nah tuh, mau jadi korban selanjutnya???










Ohya puncak Garuda sebelum erupsi tahun 2010 nampak gagah dan menjulang berbentuk seperti burung Garuda. Puncak Garuda adalah sebutan untuk sebuah batu menjulang yang menyerupai tebing di puncak Merapi. Namun menurut warga setempat, Puncak Garuda itu udah hilang akibat erupsi yang terjadi pada 2010 silam. Dari sini muncul hal mistis yang dikaitkan dengan hal ghaib yang terjadi. Pasalnya, batu tempat lokasi foto Eri bentuknya mirip sekali dengan Puncak Garuda yang udah lama hilang, tempat dimana Eri Yunanto mahasiswa Atmajaya yang terpeleset dan akhirnya terjatuh dan meninggal tahun 2016 lalu.

Puncak Garuda


Runtuhnya sang legendaris Puncak Garuda Merapi akibat erupsi gunung Merapi pada tahun 2010 silam emang banyak meninggalkan duka bagi para pengagumnya. Puncak Garuda adalah ikon Merapi, bertahun - tahun berdiri kokoh tak gentar oleh keangkuhan Gunung Merapi. Dia tetap setia bertengger di puncak sang maha gunung, Merapi. Tetapi kini lambang keanggunan dan kegagahan itu telah hilang runtuh tak kuasa menghadang kekuatan letusan sang empunya puncak, Merapi... 




 
Akses Gunung Merapi
Jika kamu berangkat dari Yogyakarta, kamu bisa melewati rute Jalan Magelang – Muntilan – Blabak – Ketep – Desa Jlatah (Basecamp Barameru).
Jika dari Boyolali, rute yang harus kamu lewati yakni Terminal Boyolali – Pasar Cepogo – Desa Jlatah (Basecamp Barameru).
Sedangkan jika kamu datang dari arah semarang bisa melewati rute Pasar Ampel – Pasar Cepogo – Desa Jlatah (Basecamp Barameru).


Tips Mendaki Gunung Merapi
Mendaki gunung termasuk jenis kegiatan luar ruangan dengan resiko tinggi, karena itu kamu harus selalu berhati-hati dan mempersiapkan kegiatan pendakian dengan baik. Berikut ini ada beberapa tips yang sebaiknya kamu tahu dan kamu lakukan ketika hendak mendaki Gunung Merapi.
  • Fisik yang prima merupakan salah satu kunci kesuksesan pendakian. Karena itu ada baiknya kamu mempersiapkan fisikmu seminggu sebelum pendakian. Peregangan otot dan jogging bisa menjadi olahraga yang mampu mengurangi resiko kram atau keseleo di bagian otot.
  • Pilihlah waktu pendakian yang tepat pada saat tanah tidak terlalu berdebu dan pepohonan masih terlihat hijau, sesuaikan musim.
  • Lakukan pendaftaran ke pos retribusi/pos pendakian Gunung Merapi yang sudah disediakan.
  • Bawalah perlengkapan pendakian sesuai standar dan bawalah pakaian ganti untuk mengantisipasi bila basah.
  • Gunakanlah sepatu trekking atau minimal sepatu olahraga. Disarankan nggak menggunakan sandal karena nggak bisa melindungi mata kaki dan pergelangan kaki dari hentakan maupun gesekan.
  • Meski kamu hanya berencana melakukan pendakian dalam waktu singkat, bawalah perbekalan air minum dan logistik yang mencukupi supaya tubuhmu mendapatkan energi. Lebih baik sisa dari pada kurang. Bawa vitamin juga perlu.
  • Kalo ngerasa kurang yakin dengan kemampuan, ajak temen yang udah berpengalaman di bidang pendakian gunung atau sewalah guide maupun porter lokal.
  • Jumlah minimal dalam satu grup pendakian adalah 3 orang, lebih banyak akan lebih baik. Pastikan diantara teman satu grupmu udah ada yang memiliki pengalaman mendaki gunung khususnya Gunung Merapi.
  • Jika ingin mendirikan tenda, cari tempat yang landai dan aman dari terjangan angin. Pastikan juga tendamu nggak menutup jalur yang dilewati oleh pendaki lain.
     
    Cek Videonya gais :
     

      Reaksi:

      0 komentar:

      Posting Komentar

      Thanks ya udah mampir baca... share, like, dan komen juga boleh :)