Senin, 05 Juni 2017

IBU PENDAKI



Sharing dan kenalan lebih dekat dengan
IBU PENDAKI



 
Mendaki gunung merupakan aktivitas alam yang beberapa tahun belakangan jadi makin populer dan nge-hits buat para pemuda-pemudi Indonesia. Naik gunung sambil menikmati indahnya alam Indonesia. “kapan kamu kesini”, “Indonesia itu indah lo”, “jangan dirumah aja”, dapat salam dari blablabla...” kata beberapa pendaki-pendaki dalam tanda kutip.

Pendaki gunung pun sekarang banyak banget jenisnya, dan seolah-olah muncul dengan julukannya masing-masing ada pendaki ganteng, pendaki keren, pendaki cantik, dan pendaki-pendaki dengan julukan lain yang kayaknya masih banyak lagi deh,hehehe...

Dan kali ini gue nggak akan ngebahas soal pendaki cantik, keren, ganteng yang tadi. Tapi gue akan ngebahas tentang Ibu Yuni. Beliau merupakan sosok yang cukup dikenal di kalangan pendaki gunung dan mempunyai julukan IBU PENDAKI. Sosok yang sangat inspiratif, ramah, dan pastinya suka naik gunung. Seorang wanita yang lahir di Pekalongan pada 24 Juni 1953 dengan nama lengkap Wahyuni.






Di usianya yang nggak lagi muda (65 tahun) ibu Yuni sudah mendaki sedikitnya 9 gunung di Indonesia. Usianya yang 65 tahun memang membawanya pada kondisi tubuh yang nggak se-prima para pendaki gunung lain. Tapi, tekad dan keinginan yang kuat serta bantuan para anak-anaknya yang menemani Ibu Yuni saat pendakian, memang selalu berhasil membawanya mencapai puncak gunung yang akan dituju.



Seperti yang dikatakan bu Yuni di sebuah acara Talkshow yang dipandu Mr. Dedy Corbuzier di salah satu stasiun swasta nasional :


“Saya memiliki mimpi naik gunung sudah lama. Tapi karena dulu harus merawat dan menjaga anak, saya belum bisa melakukannya. Kini anak-anak sudah besar, sudah dewasa. Saya bisa naik gunung dan mendaki. Anak-anak dan keluarga sangat mendukung. Saya begitu bahagia.”


Dan kemarin, gue dapat kesempatan buat mewawancarai dan sharing dengan Ibu Yuni via LDR / Jarak jauh. Berikut ini petikan teks wawancara gue sama beliau :


Penulis : Assalamualaikum ibu


Ibu : Walaikumsalam 


Penulis : Saya admin dari akun dan web Traveler Minim Dana. Boleh kami sedikit interview dan nanya-nanya seputar gunung sama ibu?untuk kami publish di web.


Ibu : Iya silahkan....


Penulis : Makasih ibu, Nama lengkap ibu, tempat lahir, dan domisili?


Ibu :  Nama asli Wahyuni, tempat lahir pesisir pantai Pekalongan dan masih menetap di Pekalongan


Penulis : Pertama kali ibu mengenal dunia pendakian kapan dan tahun berapa?

Ibu : Kalau mengenal pendakian sudah sejak lama, tapi kalau dulu tidak di pendakian, cuma bantu-bantu suami saat melatih relawan & di bencana-bencana, dan waktu itu anak-anak sudah pada mendaki di tahun 1985, tapi kalau ibu baru mulai mendaki tahun 2010.


Penulis : Gunung yang paling berkesan untuk ibu?


Ibu : Kalau berkesan, berkesan semua. Tapi paling senang di gunung Slamet karena hampir semua keluarga ikut, dari anak-anak sampai cucu yang umur 7 dan 1 tahun.


Penulis : Wah bahagianya.... Selain suami dan ank, hal pa yang menginspirasi ibu untuk mendaki gunung?


Ibu : Bersyukur dengan ciptaan-Nya dan selalu belajar merendahkan hati dan diri dari manusia dan sang pencipta. Ketika kita diperlihatkan,,, keindahan yang luar biasa, kita tidak akan ada apa-apanya dengan keindahan dan besarnya ciptaan-Nya. Bila kita bersyukur, bila kita pahami maka tidaklah pantas manusia itu memiliki sifat sombong.


Penulis : Nggeh ibu, bagaimana awal mula ibu bisa diundang ke acara salah satu stasiun tv swasta Nasional?


Ibu : hehe... tiba-tiba dari tim mereka kontak saja di WA.


Penulis : Pengalaman mendaki, atau pernah ke gunung mana saja?


Ibu : Belum banyak kalau mendaki, paling masih 9 gunung. Sumbing, merapi, andong, prau, dan lainnya.


Penulis : Agenda selanjutnya mau mendaki ke gunung mana ibu?


Ibu : Di 65 tahun Insya’Allah akan menyapa papandayan, semeru, dan rinjani kalau memang masih diberi kesehatan dan rezeki.


Penulis : Aamiin Aamiin ya Rabbal Alamiin, Bagaimana pendapat ibu tentang para pendaki di zaman sekarang, dengan banyaknya aktifitas pendakian yang lagi hits beberapa tahun belakangan?


Ibu : Dari obrolan keluarga sebenarnya bagus dengan semakin banyaknya pendaki, dan seharusnya juga bukan hanya mendaki. Tapi juga mencintai alamnya, sehingga pendakian tidak dikatakan hobi musiman tanpa peduli dengan sarana hobinya yaitu Alam


Penulis : Benar sekali ibu dan sangat setuju, jangan mengambil apapun kecuali gambar, jangan meninggalkan apapun kecuali jejak, jangan membunuh apapun kecuali waktu. Dan jaga alam serta kelestariannya. Saran untuk pendaki-pendaki muda seperti kami ini?


Ibu : Kalau saran lebih sama kita semua saja, ya karena kita sama-sama masih menjalankan aktifitas di alam. Tetap selalu menjaga kelestarian apapun itu bentuknya untuk alam kita. Terus menjaga rasa saling sapa dan baik pada sesama, kita ke gunung kadang juga senang  melihat kehidupan di desa yang jarang kita temui di kota dengan saling sapa. Kalau orang Jawa bilang seraseh pada orang lain dan selalu taat kepada aturan-aturan yang berlaku di alam, dan yang terakhir jangan Egois.


Penulis : Pertanyaan terakhir untuk ibu, siapa yang mempunyai inisiatif membuatkan ibu akun instagram?


Ibu : Anak-anak sama pemuda di kampung, dari sekitar tahun 87 sampai sekarang rumah ibu memang jadi sekretariat pendaki. Semenjak salah satu anak ibu meninggal, yang ngumpul berkurang, tapi dari ibu mulai mendaki jadi rame lagi yang kumpul.


Penulis : Ada komunitas mungkin ibu, dan apa namanya?pertanyaan tambahan,hehehe.....


Ibu : Kalau sekarang tidak ada, kalau dulu namanya BANKLADES (Balada Anak Kelana Desa) yang digagas Almarhum anak saya.


Penulis :  Terima kasih nggeh ibu sudah meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Semoga ibu beserta keluarga diberi kesehatan dan rezeki dari Allah SWT. Sehat selalu nggeh bu,,, dan untuk beliau-beliau yang sudah meninggal semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT. Dan selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan untuk ibu beserta keluarga. Wassalamualaikum wr.wb


Ibu : Aamiin, Aamiin, Walaikumsalam.....



Nah itu tadi wawancara gue sama Ibu yuni (Ibu Pendaki), semoga dari obrolan singkat tadi kita sebagai pecinta alam dan pendaki gunung bisa mengambil ilmu dan inspirasi dari filosofi seorang Ibu Pendaki, apalagi hobi nggak pernah mengenal usia kan.

Seperti yang Ibu Yuni bilang “Sebagai pendaki seharusnya juga bukan hanya mendaki. Tapi juga mencintai alamnya, sehingga pendakian tidak dikatakan hobi musiman tanpa peduli dengan sarana hobinya yaitu Alam” CATET...!!!! 

Buat kalian yang penasaran dan pengan kenal lebih dekat dengan Ibu Yuni, langsung follow saja akun instagramnya dan langsung klik : @Ibu_pendaki





Mmmmm....Dan... “kapan kamu kesini”, “indonesia itu indah lo”, “jangan dirumah aja”, dapat salam dari gunung...  Finally...mari kita jadi pendaki cantik yang nggak hanya cantik, ganteng yang nggak hanya ganteng, keren yang nggak hanya keren. Karna alam nggak butuh itu. Mari kita jaga kelestarian alam, kita peduli dengan sampah-sampah yang ada di gunung, stop vandalisme, dan kebaikan-kebaikan lainnya yang kita sudah cukup dewasa untuk mengerti. End....

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Thanks ya udah mampir baca... share, like, dan komen juga boleh :)